Tiga Pilar Reshuffle yang Terlupakan: Pola Pikir, Budaya, dan Struktur

Ilustrasi tiga pilar reshuffle yang terlupakan: pola pikir, budaya, dan struktur.
Tiga pilar reshuffle yang terlupakan: pola pikir, budaya, dan struktur. (Foto: Harian Disway)
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Setiap kali ada gelombang demonstrasi, kritik publik, atau blunder kebijakan yang viral, resepnya hampir selalu sama: ganti menteri. Seolah-olah masalah bangsa ini cuma soal siapa yang duduk di kursi kekuasaan, bukan bagaimana sistem itu sendiri bekerja. Kita sudah terlalu sering menyaksikan ritual pergantian kabinet yang lebih mirip memindahkan bidak catur daripada benar-benar memperbaiki mesin pemerintahan. Yang diganti orangnya, yang dibiarkan utuh adalah pola pikir, budaya kerja, dan struktur birokrasi yang sejak lama menjadi akar kemacetan.

Pola Pikir dan Budaya Kerja yang Terlupakan

Mari kita jujur sejenak. Otak-atik kabinet tanpa menyentuh tiga pilar itu (pola pikir, budaya, dan struktur) hanyalah ilusi reformasi. Ia memberikan kesan ada perubahan, tapi sebenarnya hanya mengulang siklus yang sama dengan wajah baru. Seperti mengganti seragam tim sepak bola, tapi tetap memakai strategi latihan yang buruk. Hasilnya? Kita tetap kalah, hanya dengan kostum berbeda.

Pilar pertama yang sering terlupakan adalah pola pikir. Dalam banyak literatur reformasi birokrasi, perubahan pola pikir disebut sebagai fondasi paling mendasar. Tanpa pergeseran cara berpikir dari “menguasai” menjadi “melayani”, dari “proyek” menjadi “hasil”, dari “loyalitas kepada atasan” menjadi “akuntabilitas kepada publik”, pergantian menteri hanyalah kosmetik. Masalahnya, pola pikir tidak bisa diubah dengan surat keputusan. Ia butuh proses panjang, keteladanan, dan sistem insentif yang konsisten.

Baca Juga:4 ABK KM Maulana 23 Disiksa Gegara Tak Capai Target, Pelaku Bohong Korban Sakit20 dari 26 PK Dukung Asep Eka, Bagaimana Sikap 6 PK Golkar Majalengka Jelang Musda?

Ambil contoh sederhana: budaya rapat. Di banyak instansi, rapat bukan lagi alat untuk menyelesaikan masalah, melainkan ritual untuk menunjukkan kesibukan. Ada rapat pagi, rapat siang, rapat sore, bahkan rapat malam. Namun, apakah masalah selesai? Sering kali tidak. Sebab, pola pikir yang mendasarinya bukan “bagaimana menyelesaikan ini”, melainkan “bagaimana terlihat sibuk dan penting”. Selama pola pikir itu tidak berubah, ganti menteri sebanyak apa pun tidak akan mengubah realitas di lapangan.

Pilar kedua adalah budaya kerja. Budaya bukan sekadar slogan di dinding kantor atau tema seminar tahunan. Budaya adalah apa yang benar-benar dilakukan orang ketika tidak ada yang mengawasi. Di Indonesia, budaya birokrasi masih terlalu kental dengan hierarki, formalitas, dan kepatuhan buta. Inovasi dianggap mengganggu ketertiban. Kritik dianggap pembangkangan. Dan, yang paling parah, budaya “asal selamat” masih lebih dihargai daripada budaya “berani benar”.

0 Komentar