Menjawab Kekhawatiran dan Menepis Mitos
Meskipun ada dukungan luas, beberapa kekhawatiran telah muncul mengenai kompleksitas administratif yang mungkin ditimbulkan oleh perubahan nama. Namun, para pendukung dengan cepat mengesampingkan kekhawatiran ini, menyoroti bahwa penyesuaian administratif seperti mengganti kop surat, stempel resmi, dan dokumen adalah urusan birokrasi rutin yang telah berhasil dikelola di daerah lain.
Ganjar Kurnia menawarkan perspektif yang menenangkan. “Ah itu kan turunannya. Urusan administrasi, kop surat, cap dan sebagainya itu mah biasa-biasa saja,” katanya dengan percaya diri. Ia mencontohkan keberhasilan perubahan nama Ujung Pandang menjadi Makassar sebagai preseden, yang menunjukkan bahwa perubahan semacam itu, meskipun membutuhkan usaha, sepenuhnya layak dilakukan.
Ia juga menekankan bahwa penggantian nama tidak akan menyebabkan fragmentasi atau pemisahan diri. Proposal ini murni merupakan perubahan identitas dan bukan langkah untuk mengubah status politik atau administratif provinsi. Tujuannya adalah untuk menginspirasi dan mempersatukan di bawah panji budaya bersama, bukan menciptakan perpecahan atau eksklusivitas.
Baca Juga:40 Ponpes Di Jawa Barat Dibekali Penguatan UMKM – Video23.470 Pekerja Kena PHK Selama 2026, Jawa Barat Jadi Provinsi dengan Kasus Tertinggi
Membangun Etos Baru: Dampak Sosio-Psikologis
Dampak potensial dari perubahan nama ini melampaui aspek administratif dan masuk ke ranah sosio-psikologis. Ganjar Kurnia mengartikulasikan hal ini dengan fasih, menjelaskan bahwa transformasi menjadi Tatar Sunda memiliki makna budaya dan psikologis yang mendalam yang dapat membantu menyelamatkan identitas Sunda dari terpinggirkan oleh pendekatan administratif semata.
“Hipotesis saya adalah bahwa mengganti nama menjadi Sunda tidak serta-merta membuat kita sejahtera,” aku Ganjar. “Tetapi dengan mengadopsi nama Sunda, muncul etos, semangat, dan tekad bahwa saya sebagai orang Sunda harus berusaha menjadi lebih baik dari yang lain.” Ini merangkum potensi transformatif dari perubahan nama. Ini dipandang sebagai katalis untuk pola pikir baru—cara untuk menumbuhkan kebanggaan, ambisi, dan dorongan kolektif untuk kemajuan.
Fokus pada identitas ini sangat penting di negara yang beragam dan berubah dengan cepat. Ini memberikan jangkar budaya, pengingat akan tradisi dan nilai-nilai kaya yang mendefinisikan sebuah komunitas. Dengan memperkuat inti budaya ini, para pendukung percaya bahwa wilayah tersebut dapat lebih baik menavigasi tantangan modernitas sambil tetap setia pada akarnya.
