Selain itu, robot juga dapat membantu mengingatkan jadwal minum obat, mengajak berbincang mengenai aktivitas sehari-hari, membantu mendeteksi potensi masalah kesehatan, hingga menemani pengguna menonton pertandingan Piala Dunia.
Meski memiliki berbagai kemampuan interaktif, UBTech menegaskan bahwa robot U1 saat ini belum dirancang untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, memasak, maupun digunakan untuk hubungan intim.
Versi dasar robot juga masih memiliki keterbatasan. Robot hanya dapat menggerakkan kepala, mata, dan mulut dengan daya tahan baterai hingga sekitar empat jam.
Baca Juga:Fakta Ikan Lele: Kaya Nutrisi, tetapi Bisa Menyerap Logam Berat dari Perairan TercemarEra Baru! Di Pabrik Xiaomi, Robot Humanoid Bantu Rakit Satu Mobil Baru Setiap 76 Detik
Target Pasar Robot Pendamping di China
UBTech secara khusus menyasar dua kelompok masyarakat sebagai pasar utama robot humanoid U1, yaitu:
- Orang yang hidup sendiri atau lajang.
- Warga berusia di atas 60 tahun.
Menurut Michael Tam, kedua kelompok tersebut memiliki kebutuhan besar akan teman dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyebut jumlah masyarakat lajang di China mencapai sekitar 120 juta orang, sementara populasi warga berusia di atas 60 tahun diperkirakan sekitar 320 juta orang.
Perusahaan juga mengungkapkan bahwa robot U1 telah menerima lebih dari 13.300 pesanan awal (pre-order). Pengiriman kepada konsumen dijadwalkan mulai September.
Robot Pendamping AI Semakin Berkembang di Berbagai Negara
Penggunaan AI generatif sebagai pendamping bukan hanya berkembang di China.
Di Korea Selatan, misalnya, sejumlah panti jompo telah memanfaatkan boneka yang didukung teknologi ChatGPT untuk menemani para penghuni lanjut usia. Sementara itu, perangkat AI berbentuk lampu bernama ElliQ juga menawarkan layanan pendampingan sekaligus pemantauan keselamatan bagi penggunanya.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa teknologi AI semakin banyak dimanfaatkan untuk membantu mengurangi rasa kesepian, khususnya pada kelompok lansia.
Tantangan Robot Humanoid Hyper Realistis
Meski potensinya cukup besar, robot pendamping tetap menghadapi sejumlah tantangan.
Baca Juga:Jangan Asal Minum, Ini 7 Waktu Terbaik Minum Air Kelapa untuk KesehatanWisata Kesehatan Makin Berkembang, Singapura Bangun Therme Singapore Bernilai Rp14 Triliun
Fenomena Uncanny Valley
Lian Jye Su, analis utama Omdia yang berbasis di Singapura, menilai robot pendamping memang memiliki prospek, terutama pada sektor perawatan lansia maupun kesehatan mental. Namun, pasar produk seperti ini masih tergolong niche.
Ia juga menyoroti pentingnya robot mampu melewati fenomena uncanny valley, yaitu kondisi ketika manusia merasa tidak nyaman karena objek buatan terlihat terlalu mirip manusia. Menurutnya, aspek tersebut menjadi faktor penting agar robot dapat diterima secara fisik maupun emosional oleh pengguna.
