Memasuki musim panen, para petani garam di Kabupaten Cirebon justru harus menghadapi dua masalah sekaligus. Selain harga garam yang mulai merosot turun, hasil panen mereka juga sulit terjual akibat minimnya penyerapan dari pihak pembeli.
Musim kemarau yang panjang sejatinya menjadi berkah untuk waktu panen bagi petani garam di Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon. Namun, hasil panen tahun ini belum mampu memberikan keuntungan yang diharapkan karena hingga kini banyak petani yang mengaku belum mendapatkan pembeli, meskipun volume produksi garam terus meningkat.
Selain sulit terjual, harga garam krosok (garam kasar) di tingkat petani juga mengalami penurunan drastis dari yang semula sekitar Rp15.000 menjadi Rp12.000 per kilogram. Petani menyebut penurunan harga ini dipicu oleh hukum pasar, di mana semakin banyak petambak yang memasuki masa panen raya sehingga pasokan garam melimpah ruah.
Baca Juga:FKDC Dorong Perusahaan Penuhi Kuota Pekerja Difabel – VideoLPSK Kunjungi Korban Dugaan Penyiksaan Oknum Polisi – Video
Dalam satu kali proses pengerokan yang dilakukan setiap dua hari sekali, satu petak lahan tambak mampu menghasilkan 4 hingga 5 karung garam. Sementara itu, dalam akumulasi satu musim penuh, produksi garam petani bisa mencapai 80 hingga 90 ton, sangat bergantung pada stabilitas kondisi cuaca kemarau.
Menyikapi kondisi ini, para petani berharap pemerintah dapat menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk komoditas garam, sebagaimana yang telah diterapkan pada komoditas pangan lain seperti gula. Kebijakan HET dinilai penting untuk menjaga stabilitas harga saat panen raya sekaligus melindungi pendapatan para petambak dari permainan harga tengkulak. Selain itu, pemerintah juga didesak untuk memperkuat penyerapan garam lokal oleh badan usaha milik negara maupun swasta agar hasil panen tidak menumpuk dan membusuk di gudang penyimpanan.
Sebagai informasi, garam hasil produksi petani Cirebon saat ini mayoritas sudah menggunakan teknologi geomembrane untuk menjaga higienitas. Pasokan garam ini biasanya dikirim ke kota-kota besar untuk memenuhi kebutuhan sektor industri pabrik, sedangkan garam dengan kualitas premium akan diolah kembali menjadi garam konsumsi beryodium.