Dan ia memilih menjadi legenda. Musim demi musim, Ronaldo tampil seperti mesin yang tak mengenal lelah. Gol demi gol lahir dengan cara yang berbeda. Tendangan keras dari luar kotak penalti, sundulan yang seolah menentang gravitasi, penyelesaian satu sentuhan, hingga tendangan bebas yang membuat ribuan penonton terdiam.
Tak sedikit pertandingan yang dimenangkan hanya karena satu nama: Cristiano Ronaldo. Di Real Madrid, ia membantu klub meraih empat gelar Liga Champions UEFA, termasuk tiga gelar beruntun yang belum pernah terjadi di era modern. Ia juga meraih berbagai gelar domestik dan mengukuhkan diri sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah klub.
Namun di balik semua rekor itu, ada satu kebiasaan yang jarang terlihat kamera. Ketika rekan-rekannya pulang setelah latihan, Ronaldo sering kali masih berada di pusat kebugaran. Ia menambah latihan kekuatan, sprint, hingga latihan penyelesaian akhir. Baginya, bakat hanyalah modal awal. Yang menentukan adalah kebiasaan setiap hari.
Baca Juga:Ini profil Lengkap Jampidsus Febrie Ardiansyah! Karier, Pendidikan Sampai Daftar Kasus yang Pernah DitanganiPenggeledahan Serentak,Kortas Tipidkor Polri Buru Jejak Dugaan Korupsi dan TPPU Kasus Besar, Ini Daftarnya
Mantan rekan setimnya di Manchester United, Patrice Evra, pernah menceritakan pengalamannya ketika diundang makan siang di rumah Ronaldo.
Evra mengira ia akan menikmati waktu santai bersama sahabatnya. Namun setelah makan, Ronaldo justru mengajaknya berlatih di gym, berenang, dan terus berolahraga. Sejak saat itu Evra bercanda kepada banyak orang, “Kalau Cristiano mengundangmu makan siang, jangan datang kalau tidak siap berlatih.”
Cerita itu bukan sekadar lelucon. Itu menggambarkan siapa Ronaldo sebenarnya. Sepak bola bukan pekerjaan baginya.
Sepak bola adalah cara hidup. Disiplin Ronaldo bahkan melampaui lapangan. Ia dikenal menjaga pola makan dengan sangat ketat, mengutamakan makanan tinggi protein, sayuran, buah-buahan, dan cukup air putih. Ia menghindari alkohol, membatasi gula, menjaga jam tidur, dan memberi perhatian besar pada proses pemulihan tubuh.
Karena itulah, ketika banyak pemain mulai menurun pada usia pertengahan 30-an, Ronaldo masih mampu bersaing di level tertinggi. Setelah sembilan musim bersama Real Madrid, Ronaldo mencari tantangan baru di Italia bersama Juventus. Banyak yang meragukan keputusannya. Namun lagi-lagi, ia membuktikan kualitasnya dengan menjadi salah satu pencetak gol terbanyak dan membantu Juventus meraih gelar liga.
