Upaya Pemerintah Desa Gemulung Tonggoh, Kecamatan Greged, Kabupaten Cirebon, dalam mengembangkan usaha melalui Badan Usaha Milik Desa atau BUMDes mulai menunjukkan hasil, Rabu siang. Program peternakan ayam petelur kini telah memasuki masa produksi dengan hasil puluhan kilogram telur setiap harinya. Selain menjadi sumber pendapatan desa, program ini juga diharapkan mampu memenuhi kebutuhan telur bagi masyarakat setempat.
Upaya Pemerintah Desa Gemulung Tonggoh, Kecamatan Greged, Kabupaten Cirebon, dalam mengembangkan usaha melalui Badan Usaha Milik Desa atau BUMDes mulai menunjukkan hasil, Rabu siang.
Peternakan ayam petelur milik BUMDes Desa Gemulung Tonggoh terus berkembang. Saat ini, ayam telah memasuki usia sekitar 25 minggu dan sekitar 60 persen dari total populasi sudah mulai bertelur.
Baca Juga:Tunjangan DPRD & Optimalisasi Pajak Libatkan APH Jadi Sorotan – VideoPotret Pilu Sulitnya Akses Warga Kampung Pecantilan Tawangsari – Video
Dari sebanyak seribu ekor ayam yang dipelihara produksi telur mencapai sekitar 26 kilogram per hari. Hasil panen tersebut dipasarkan langsung kepada masyarakat dengan harga berkisar Rp24 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram.
Tingginya minat warga membuat produksi yang ada masih belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat. Bahkan, para pedagang kecil, khususnya pedagang siomay di Desa Gemulung Tonggoh, rutin membeli telur dari peternakan BUMDes tersebut.
Saat ini penjualan masih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar dan belum dipasarkan ke luar daerah. Ke depan, pemerintah desa berkomitmen meningkatkan kapasitas produksi dengan menambah populasi ayam dari seribu ekor menjadi tiga ribu ekor.
Meski menghadapi tantangan cuaca panas di musim kemarau, pengelola mengaku kondisi ternak masih dapat dikendalikan dengan penggunaan atap Alderon untuk mengurangi suhu kandang, ke depan, BUMDes juga berencana memasang blower agar suhu kandang lebih stabil sehingga produktivitas ayam tetap terjaga.
Program peternakan ayam petelur BUMDes Gemulung Tonggoh diharapkan menjadi salah satu penggerak ekonomi desa sekaligus meningkatkan ketahanan pangan masyarakat melalui penyediaan telur dengan harga yang terjangkau.