Masalah klasik ketenagakerjaan di Kabupaten Cirebon masih bertumpu pada belum optimalnya implementasi link and match antara penyedia tenaga kerja dan kebutuhan dunia usaha maupun dunia industri. Kesenjangan ini menyebabkan kompetensi lulusan sering kali tidak sejalan dengan tuntutan pasar kerja, sehingga menghambat penyerapan tenaga kerja secara efektif.
Istilah link and match telah lama menjadi jargon dalam berbagai kebijakan ketenagakerjaan. Namun, setelah bertahun-tahun digaungkan, persoalan klasik ini belum juga menemukan titik temu. Dunia pendidikan terus menghasilkan lulusan, sementara dunia usaha tetap mengeluhkan sulitnya memperoleh tenaga kerja yang sesuai kebutuhan.
Di sisi lain, angka pengangguran lulusan sekolah dan perguruan tinggi masih menjadi ironi yang berulang. Alih-alih menjadi jembatan, link and match kerap berhenti sebagai slogan yang indah di atas dokumen perencanaan dan slogan kebijakan.
Baca Juga:Pemkot Dan Kantor Pajak Terus Genjot Potensi Pajak – VideoParkir Liar Sekitar Jalan Cipto Masih Ditemukan – Video
Kebutuhan industri bergerak lebih cepat daripada kemampuan sistem pendidikan untuk beradaptasi. Akibatnya, lulusan datang dengan ijazah, sedangkan perusahaan mencari kompetensi yang tidak selalu diajarkan di ruang kelas.
Ironisnya, ketika perusahaan mengeluhkan kekurangan tenaga kerja terampil, banyak pencari kerja justru masih kesulitan mendapatkan pekerjaan. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalannya bukan semata-mata kekurangan lapangan kerja, melainkan belum sinkronnya ekosistem penyediaan dan penyerapan tenaga kerja.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Cirebon menerapkan training need analysis, atau analisis kebutuhan pelatihan dalam menyusun program kerja tahun 2027. Melalui pemetaan tersebut, jenis pelatihan yang diberikan diharapkan lebih sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Cirebon, Novi Hendrianto, mengatakan, seluruh program pelatihan dirancang menggunakan konsep link and match, agar selaras dengan kebutuhan dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja atau Dudika. Dengan demikian, kompetensi yang dimiliki peserta pelatihan diharapkan sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Melalui pendekatan tersebut, Disnaker berharap setiap program pelatihan tidak hanya meningkatkan kesiapan masyarakat untuk bekerja, tetapi juga mendorong tumbuhnya wirausaha baru sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat Kabupaten Cirebon.