RADARCIREBON.TV – Krisis air bersih akibat musim kemarau di Jawa Barat terus meluas. Berdasarkan data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat, bencana kekeringan kini telah melanda 17 kabupaten dan kota di wilayah tersebut, berdampak pada lebih dari 200.000 warga yang tersebar di 95 kecamatan. Dari belasan wilayah terdampak, Kabupaten Bogor dilaporkan menjadi daerah dengan tingkat kekeringan terparah dan cakupan wilayah terluas di Jawa Barat.
Menanggapi kondisi yang kian mengkhawatirkan, Pemerintah Kabupaten Majalengka secara resmi menetapkan status siaga darurat kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla). Penetapan status ini bertujuan untuk mempercepat langkah antisipasi terhadap dampak yang lebih luas, terutama pada sektor pertanian dan pemenuhan kebutuhan dasar air bersih bagi masyarakat.
Majalengka Siaga Darurat hingga Oktober
BPBD Kabupaten Majalengka menyebutkan status siaga darurat bencana kekeringan dan karhutla di daerahnya berlaku hingga 31 Oktober 2026 untuk mengantisipasi dampak musim kemarau.
Baca Juga:Angin Kencang di Pulau Jawa Diprediksi Berlangsung hingga Akhir Musim Kemarau 2026BMKG: Indonesia Sudah Masuk Fase El Nino Kuat, Dampaknya Lebih Parah dari 2023
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Majalengka, Agus Tamim, menjelaskan status siaga darurat tersebut ditetapkan melalui Surat Keputusan Bupati Majalengka yang mulai berlaku sejak 2 Juni 2026. Penetapan dilakukan setelah pemerintah daerah menerima informasi prediksi musim kemarau dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta mempertimbangkan hasil kajian risiko bencana maupun catatan kejadian kekeringan pada tahun-tahun sebelumnya.
Menurutnya, musim kemarau tahun ini berpotensi menyebabkan penurunan curah hujan yang berdampak pada sektor pertanian, ketersediaan air bersih masyarakat, serta meningkatkan risiko karhutla.
Wilayah Rawan dan Distribusi Bantuan Air
Agus menyampaikan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan tersebar di sejumlah kecamatan, terutama kawasan utara Majalengka yang didominasi lahan pertanian dan bergantung pada pasokan irigasi. Daerah tersebut antara lain Kecamatan Jatitujuh, Kertajati, Ligung, dan Sumberjaya, yang selama ini kerap terdampak saat musim kemarau berlangsung lebih panjang.
Hingga saat ini, BPBD Kabupaten Majalengka telah mendistribusikan sedikitnya 15.000 liter air bersih untuk membantu warga di wilayah terdampak. Laporan terbaru menunjukkan kekeringan kini merambah dua lokasi di Kecamatan Kadipaten, yakni Desa Cipaku dan Desa Heuleut. Wilayah Kadipaten sendiri sebelumnya telah dipetakan sebagai salah satu daerah rawan krisis air bersih selama musim kemarau.
