Setelah viral di media sosial terkait penolakan program Makan Bergizi Gratis atau MBG di SDN 1 Gujeg, pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG Kalianyar memberikan klarifikasi. Mereka menegaskan telah menindaklanjuti temuan makanan yang diduga bermasalah serta mencapai kesepakatan dengan pihak sekolah agar pendistribusian MBG dapat kembali dilaksanakan.
Setelah viral di media sosial terkait penolakan program Makan Bergizi Gratis atau MBG di SDN 1 Gujeg, Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon, kini pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG Kalianyar memberikan klarifikasi. Asisten lapangan SPPG menjelaskan, penolakan MBG dimulai surat pernyataan penolakan dari SDN 1 Gujeg baru diterima pada hari Selasa sekitar pukul 13.00 WIB, setelah peristiwa tersebut terlebih dahulu viral di media sosial.
Terkait kronologi kejadian yang menjadi pemicu awal, SPPG menerima laporan dari pihak sekolah pada Rabu 19 Juli pukul 08:30, mengenai ompreng dengan menu ayam sebanyak 63 dari total 170 yang diduga mengalami penurunan kualitas. Mendapat laporan tersebut, pihak SPPG langsung mendatangi sekolah dan meminta agar makanan yang diduga bermasalah tidak dibagikan kepada para siswa sebelum dilakukan pengecekan kembali di lapangan.
Baca Juga:MBG SDN 1 Gujeg Dihentikan – VideoWarga Protes Tower BTS Jarak 8 Meter Dari Rumah – Video
Atas temuan itu, SPPG menyatakan telah meminta maaf kepada pihak sekolah dan berkomitmen meningkatkan pengawasan serta kualitas makanan agar kejadian serupa tidak terulang.
SPPG juga mengakui bahwa sebelumnya pernah menerima laporan mengenai temuan buah apel yang busuk dan adanya ulat pada sayur dan mie beberapa bulan lalu. Saat itu, seluruh produk yang bermasalah langsung ditarik dan diganti dengan yang baru sebagai bentuk tanggung jawab.
Setelah dilakukan pertemuan dan koordinasi dengan pihak SDN 1 Gujeg, kedua belah pihak disebut telah mencapai titik temu. Pihak sekolah menyatakan siap menerima kembali pendistribusian MBG dengan catatan SPPG konsisten menjaga kualitas dan keamanan pangan.
SPPG menilai persoalan yang sempat viral tersebut lebih banyak disebabkan oleh miskomunikasi dan miskoordinasi antara pihak SPPG maupun pihak sekolah. Namun masalah tersebut kini telah diselesaikan melalui dialog.