Kekeringan Embung Geyongan tidak hanya mengeringkan sumber air irigasi, tetapi juga menguras ekonomi petani. Selama tiga tahun terakhir, kebocoran embung membuat ratusan petani harus mengeluarkan biaya besar untuk memompa air agar tanaman padi tetap bertahan hidup.
Bagi petani di Desa Geyongan, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon, musim tanam kedua tahun ini menjadi salah satu yang paling berat. Embung yang selama ini menjadi tumpuan irigasi kini tak lagi mampu menyimpan air akibat kebocoran yang telah berlangsung sekitar tiga tahun.
Petani mengaku namun tidak bisa merasakan manfaat embung. Padahal saat pertama kali dibangun, embung memiliki kedalaman sekitar 4,5 meter dan mampu menyuplai kebutuhan air bagi lahan pertanian di sekitarnya. Kini, air yang masuk langsung terbuang melalui titik-titik kebocoran sehingga embung selalu dalam kondisi kering.
Baca Juga:Kemarau Mengancam, 8 Ribu Hektare Sawah Indramayu Mulai Dihantui Kekeringan – VideoSungai Jadi Tempat Pembuangan Sampah Dan Limbah, Pemkot Cirebon Bentuk Satgas Peduli – Video
Dampaknya, sekitar 65 hingga 70 hektare sawah mengalami kesulitan air. Para petani terpaksa memompa air dari aliran sungai yang berjarak 1,5 kilometer dengan menggunakan dua mesin pompa sekaligus agar air dapat mencapai sawah.
Biaya operasional yang harus dikeluarkan pun sangat besar. Untuk mengairi sepertiga sawah dalam satu kali pengairan, petani menghabiskan sekitar sepuluh tabung gas elpiji. Seluruh biaya ditanggung sendiri oleh petani, bahkan ada yang terpaksa menjual ternak hingga berutang demi membeli bahan bakar agar tanaman tidak mati.
Selain dihantam kekeringan, petani juga sebelumnya menghadapi serangan hama tikus dan sundep. Akibatnya, modal tanam pada musim tanam kedua diperkirakan mencapai sekitar Rp15 juta per hektare, sementara hasil panen diprediksi jauh menurun. Dalam kondisi saat ini, hasil satu ton gabah per hektare saja sudah dianggap sangat baik.
Forum Petani Desa Geyongan berharap pemerintah segera memperbaiki kebocoran embung agar kembali berfungsi seperti semula, sehingga tidak memberatkan biaya para petani untuk memompa air.