Bambang Mujiarto : Pendidikan Demokrasi Bukanlah Untuk Memilih Siapa Tapi Memahami Mengapa Seseorang Memilih

Pendidikan Demokrasi di SMA 4
Pendidikan Demokrasi di SMA 4 bersama Bambang Mujiarto ST
0 Komentar

DPRD memiliki fungsi kontrol terhadap kebijakan pemerintah, pelaksanaan program, pelayanan publik, penggunaan anggaran, hingga berbagai persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat.

“Kami menyampaikan aspirasi dari daerah untuk kemudian dibahas dalam rapat kerja di DPRD. DPRD juga menjadi mitra pemerintah provinsi dalam pengawasan kebijakan, pelayanan, dan berbagai hal yang menyangkut kepentingan masyarakat,” jelas Bambang

Bambang kemudian membawa diskusi pada persoalan yang lebih mendasar: mengapa pendidikan demokrasi perlu dikenalkan sejak bangku sekolah?

Baca Juga:Diskusi Ketua Komisi II Jabar Bambang Mujiarto dan Mahasiswa Pecinta Alam – VideoSatu Dekade MSP Indonesia, Bambang: Bertani, Berdaulat Pangan dan Strategi Canggih Pertahanan Non-Militer

Menurut dia, demokrasi tidak semestinya baru dipahami ketika seseorang memasuki bilik suara.

Demokrasi adalah proses panjang yang membutuhkan pengetahuan, kesadaran, sekaligus keberanian masyarakat untuk memahami bagaimana pemerintahan bekerja.

Terlebih, siswa SMA berada pada fase penting sebagai generasi yang sebentar lagi memasuki ruang politik sebagai warga negara yang memiliki hak dan tanggung jawab.

Sebagian di antara mereka bahkan sudah memiliki hak pilih sebagai pemilih pemula. Di titik inilah pendidikan demokrasi memiliki posisi penting.

Bukan untuk mengarahkan siswa kepada pilihan politik tertentu. Bukan pula untuk membawa ruang sekolah menjadi arena kampanye. Sebaliknya, yang dibutuhkan adalah membangun pemilih yang memahami konsekuensi dari pilihan politiknya.

Pemilih yang tidak hanya mengenal nama calon, tetapi memahami apa yang dikerjakan lembaga negara. Pemilih yang tidak hanya melihat popularitas, tetapi mampu membaca program, rekam kerja, kebijakan, serta gagasan yang ditawarkan.

“Harus tahu betul bagaimana pemerintahan bekerja karena adik-adik ini nanti akan menentukan bagaimana dan siapa yang akan dipilih dalam pemilu bagi yang sudah punya hak suara,” jelas Bambang.

Baca Juga:Permahi : Bupati Jangan Sembunyi Dibalik Topeng Seleksi, Jurus Lempar Batu Sembunyi Tangan Sudah Tak ZamanSeleksi Direksi PDAM Cirebon Disorot: Lima Peserta UKK, Lima-Limanya Lolos ke Wawancara Bupati

Dalam konteks elektoral, pemilih pemula memiliki posisi yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Mereka adalah kelompok masyarakat yang untuk pertama kalinya memasuki arena pemilu sebagai pemegang hak suara. Karena itu, kualitas pengetahuan politik mereka akan ikut menentukan kualitas demokrasi ke depan.

Namun, Bambang menekankan bahwa pendidikan demokrasi bukanlah pendidikan untuk memilih siapa. Yang jauh lebih penting adalah pendidikan untuk memahami mengapa seseorang memilih.

Siswa perlu mengetahui bagaimana lembaga legislatif bekerja, bagaimana pemerintah membuat kebijakan, bagaimana anggaran daerah disusun, bagaimana aspirasi masyarakat diperjuangkan, dan bagaimana pengawasan terhadap pemerintah dijalankan.

0 Komentar