Dilansir Health New Zealand, jika tidak memiliki masker P2 atau N95, masyarakat dapat menggunakan masker bedah ketika harus keluar saat terjadi hujan abu,. Kendati demikian, perlindungannya tidak seefektif P2 atau N95 yang menempel lebih rapat pada wajah. Oleh sebab itu, masker bedah lebih tepat dianggap sebagai perlindungan alternatif, bukan pengganti yang setara dengan N95 atau P2.
3. Masker kain: Perlindungan paling terbatas
Masker kain atau kain yang menutupi hidung dan mulut dapat membantu ketika tidak ada pilihan masker lain, tetapi perlindungannya terhadap abu vulkanik paling terbatas. Menurut USGS, bahan seperti bandana, kaus, kerudung, atau saputangan memiliki kemampuan menyaring abu yang lebih rendah dibandingkan kebanyakan masker dan juga cenderung tidak menempel rapat pada wajah. Adapun, menambah beberapa lapisan kain memang dapat meningkatkan kemampuan menyaring partikel, tetapi tetap tidak membuatnya setara dengan masker bersertifikat seperti N95 atau P2.
Jadi, masker kain dapat digunakan sebagai pilihan ketika P2, N95, atau masker bedah tidak tersedia, tetapi efektivitasnya lebih rendah. Karena itu, masker kain sebaiknya diambil sebagai pilihan terakhir ketika kamu benar-benar harus keluar di tengah paparan abu. Jika tersedia, lebih baik gunakan respirator yang memiliki kemampuan filtrasi dan ukuran yang sesuai dengan wajah.
Baca Juga:Berapa Banyak Air Kelapa yang Aman Diminum? Cek Porsi HariannyaApa Saja Kandungan Air Kelapa Muda? Inilah Daftar Nutrisi Lengkapnya
Pilihan masker untuk menghadapi abu vulkanik ternyata tidak bisa disamakan karena kemampuan menyaring partikel dan tingkat kerapatan tiap masker berbeda. N95 atau P2 menjadi pilihan utama, sementara masker bedah dan masker kain dapat digunakan sebagai alternatif dengan tingkat perlindungan yang lebih rendah. Kalau kamu harus keluar saat abu vulkanik sedang beterbangan, masker mana yang biasanya kamu pilih?
