Harga Beras di Sejumlah Daerah Kembali Naik, Ini Faktor Pemicunya

Ilustrasi harga beras di sejumlah daerah yang kembali mengalami kenaikan.
Harga beras di sejumlah daerah kembali naik, ini faktor pemicunya. (Foto: Dok. Minanews)
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Harga beras kembali mengalami kenaikan di sejumlah daerah. Kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari perubahan pasokan, harga gabah di tingkat petani, hingga dinamika distribusi dan perdagangan beras. Kenaikan ini menjadi perhatian serius karena beras merupakan salah satu komoditas pangan yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan harga pangan nasional.

Mentan Akui Kenaikan Harga Beras

Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman mengakui adanya kenaikan harga beras. Ia menyampaikan hal tersebut setelah mengikuti rapat pengendalian inflasi bersama Menteri Dalam Negeri di Jakarta, Selasa (15/9/2026). Menurut Amran, salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah perubahan harga gabah di tingkat petani. Ketika harga gabah meningkat, biaya bahan baku beras yang harus ditanggung penggilingan dan pelaku usaha ikut mengalami perubahan.

Di sisi lain, harga beras juga dipengaruhi kondisi pasokan dan distribusi. Perbedaan ketersediaan beras antarwilayah dapat menyebabkan harga di tingkat konsumen tidak seragam, terutama ketika pasokan dari daerah sentra produksi belum sepenuhnya mengalir ke wilayah yang membutuhkan. Distribusi yang tidak merata ini menjadi salah satu pemicu utama kenaikan harga di daerah-daerah tertentu.

Baca Juga:Amran Akui Harga Beras Naik, Ini Sejumlah Faktor PenyebabnyaJadwal Pertandingan Timnas Voli Putri Indonesia di Asian Games 2026, Cek Cara Nonton Gratis

Sorotan pada Perdagangan Beras Fortifikasi

Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah perdagangan beras fortifikasi. Pemerintah menemukan adanya produk yang dipasarkan dengan label tertentu, tetapi hasil pemeriksaan menunjukkan dugaan ketidaksesuaian dengan standar yang ditetapkan. Amran menyebut terdapat produk beras fortifikasi yang dijual dengan harga jauh lebih tinggi dibandingkan beras konsumsi pada umumnya. Salah satu produk yang seharusnya berada di kisaran Rp13.500 per kilogram, menurut dia, ditemukan dijual hingga Rp57.000 per kilogram.

Perbedaan harga tersebut turut menjadi sorotan karena beras fortifikasi memiliki segmen dan tujuan penggunaan tertentu. Pemeriksaan terhadap produk-produk tersebut dilakukan untuk memastikan kesesuaian antara label, kandungan, mutu, dan harga yang dibayarkan konsumen. Pemerintah berkomitmen menindak tegas pelaku usaha yang terbukti menjual beras fortifikasi tidak sesuai ketentuan.

Siklus Produksi dan Dampak terhadap Inflasi

Selain faktor perdagangan, perkembangan harga beras juga tidak terlepas dari siklus produksi pangan. Ketersediaan gabah dan beras dapat berubah mengikuti masa panen, distribusi hasil produksi, serta kebutuhan konsumsi masyarakat. Beras merupakan salah satu komoditas pangan yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan harga pangan nasional. Karena itu, perubahan harga beras di tingkat konsumen dapat turut memberikan tekanan terhadap inflasi.

0 Komentar