Ngunjung Buyut Ki Gede Bakung: Menjaga Akar, Merawat Masa Depan

Bambang Mujiarto Bakung
Ketua Komisi II DPRD Jawa Barat, Bambang Mujiarto ST saat menyapa warga Desa Bakung diacara Ngunjung Buyut Ki Gede Bakung
0 Komentar

Hari ini, kata Bambang, suatu saat akan menjadi masa lalu. Besok akan menjadi hari ini. Dan apa yang dilakukan manusia saat ini akan menjadi sejarah yang kelak dikenang oleh anak cucunya.

“Hari ini akan menjadi masa lalu dan besok akan menjadi sekarang. Karena itu apa yang kita lakukan hari ini harus memiliki makna. Sebab sejarah tidak hanya mengukir masa lalu, tetapi juga masa kini dan masa depan,” katanya.

Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang semakin cepat, Bambang menilai budaya dan tradisi tetap memiliki posisi yang sangat penting.

Baca Juga:Bambang Mujiarto Minta Program Bantuan Ternak Harus Berkelanjutan – VideoPDAM Tirta Jati Dinilai Jalan di Tempat, Bambang Minta Evaluasi Total

Kemajuan teknologi memang tidak mungkin dihindari. Perubahan zaman adalah sebuah keniscayaan. Namun budaya dan tradisi menjadi penyeimbang agar manusia tidak kehilangan jati dirinya.

“Manusia dikenal karena budaya dan tradisinya. Dari sanalah lahir karakter, nilai, dan identitas. Teknologi boleh berkembang, dunia boleh berubah, tetapi budaya menjadi ruh yang menjaga kemanusiaan kita,” tuturnya.

Bagi Bambang, salah satu pekerjaan besar yang harus dilakukan masyarakat hari ini adalah meluruskan berbagai cara pandang yang dapat memecah belah persaudaraan. Termasuk mencari versi atau bedah sejarah berdasarkan pendekatan ilmiah dan berbasis logika.

Ia menegaskan bahwa syiar Islam sejatinya hadir untuk menghadirkan kedamaian, kasih sayang, dan kemaslahatan umat, bukan untuk melahirkan konflik dan permusuhan.

“Islam tidak mengajarkan saling membunuh. Banyak versi yang berkembang terkait cerita Ki Wanajaya dan Nyi Mas Baduran, Islam mengajarkan persaudaraan, sehingga seperti tidak masuk logika jika kedua tokoh ini kemudian berperang dan menumpahkan darah, Islam penuh sisi kemanusiaan dan kasih sayang. Karena itu kita harus terus menjaga ruang-ruang kebersamaan yang menjadi kekuatan masyarakat Cirebon,” ujarnya.

Dalam konteks budaya Cirebon, Bambang melihat bahwa keberagaman pandangan, tradisi, dan ekspresi budaya merupakan kekayaan yang harus dirawat.

Perbedaan yang ada bukan alasan untuk berpecah, melainkan menjadi kekuatan untuk saling melengkapi.

Baca Juga:Cristiano Ronaldo Antar Al Nassr Juara di Usia 41, Legenda Tak Kenal Kata Tua!Blunder Konyol Bento Buyarkan Pesta Juara Ronaldo dan Al Nassr! Berikut 7 Fakta Duel Al Hilal Vs Al Nassr

Malam itu, ribuan warga yang berkumpul di satu tempat menjadi simbol nyata bahwa masyarakat Cirebon mampu berdiri bersama dalam satu semangat yang sama.

0 Komentar