“Kita boleh memiliki pandangan budaya yang berbeda, cara yang berbeda, bahkan pemahaman yang berbeda. Tetapi semuanya masih berada dalam kerangka besar Cirebon. Kita tetap satu keluarga besar yang memiliki tujuan yang sama, yaitu mewujudkan masa depan yang lebih baik,” katanya.
Menurut Bambang, peringatan Tahun Baru Islam dan malam 1 Suro harus dipahami sebagai momentum untuk menyatukan kembali semangat kebersamaan masyarakat.
Bukan hanya perayaan budaya, tetapi juga pengingat akan nilai-nilai spiritual yang diwariskan para leluhur. Dalam kesempatan tersebut, Bambang juga mengingatkan kembali pesan besar yang diwariskan oleh leluhur Cirebon, khususnya Sunan Gunung Jati.
Baca Juga:Bambang Mujiarto Minta Program Bantuan Ternak Harus Berkelanjutan – VideoPDAM Tirta Jati Dinilai Jalan di Tempat, Bambang Minta Evaluasi Total
Salah satu ajaran yang terus hidup hingga hari ini adalah pesan “Ingsun Titip Tajug lan Fakir Miskin.”
Menurutnya, pesan tersebut sering kali hanya dipahami secara sederhana sebagai perintah menjaga tempat ibadah dan membantu masyarakat miskin.
Padahal maknanya jauh lebih luas. Tajug bukan hanya bangunan fisik tempat beribadah. Tajug adalah simbol nilai, moralitas, pendidikan, dan ruang persatuan masyarakat.
Sementara fakir miskin bukan sekadar kelompok yang membutuhkan bantuan ekonomi, melainkan simbol kepedulian sosial dan kemanusiaan.
“Pesan leluhur bukan hanya soal membangun masjid. Tetapi bagaimana nilai-nilai yang ada di dalamnya mampu menjadi kekuatan yang mempersatukan masyarakat. Dan bagaimana kepedulian terhadap sesama menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari,” jelasnya.
Karena itu Bambang menilai bahwa tantangan terbesar saat ini bukan hanya pembangunan fisik. Yang jauh lebih penting adalah membangun kesadaran sosial, memperkuat solidaritas, dan menghadirkan keadilan bagi seluruh masyarakat.
Menurutnya, persoalan kemiskinan, ketimpangan sosial, dan masalah kemanusiaan tidak mungkin diselesaikan oleh pemerintah saja.
Baca Juga:Cristiano Ronaldo Antar Al Nassr Juara di Usia 41, Legenda Tak Kenal Kata Tua!Blunder Konyol Bento Buyarkan Pesta Juara Ronaldo dan Al Nassr! Berikut 7 Fakta Duel Al Hilal Vs Al Nassr
Diperlukan kerja sama antara rakyat, tokoh masyarakat, pemuda, ulama, dan seluruh elemen bangsa.
“Kepedulian sosial adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah memiliki peran, tetapi masyarakat juga memiliki peran yang sama pentingnya. Ketika keduanya berjalan bersama, persoalan besar akan lebih mudah diselesaikan,” ujarnya.
Sebagai putra daerah yang lahir dan tumbuh di tanah Bakung, Bambang mengaku memiliki ikatan emosional yang kuat dengan kampung halamannya.
Baginya, Bakung bukan sekadar tempat lahir. Bakung adalah tanah yang menyimpan jejak sejarah panjang, melahirkan banyak tokoh, dan memiliki kontribusi penting dalam pembangunan daerah.
