Keraton Kacirebonan menggelar kegiatan tradisi Satu Sura dengan beragam adat, mulai dari dedonga, pembacaan Babad Cirebon, azan pitu, serta mubeng keraton hingga tumpeng.
Dalam peringatan Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, Keraton Kacirebonan menggelar tradisi Satu Sura yang dipusatkan di area Prabayaksa. Ratusan warga antusias datang untuk mencari keberkahan di malam peringatan bulan Muharam, Tahun Baru Islam tersebut.
Kegiatan tradisi di antaranya dedonga atau doa bersama, serta lantunan azan pitu yang dikumandangkan oleh 7 orang di halaman Prabayaksa, Gapura Agung, dan gapura utama. Kemudian tradisi mubeng keraton yang dipimpin oleh Putra Mahkota, Elang Raja Kusuma Natadiningrat, diiringi para abdi dalem yang membawa tombak, obor, hingga tumpeng besar hasil bumi.
Baca Juga:RSUD Waled Kelola Parkir Secara Profesional Dan Sesuai Perda – VideoWakil Ketua DPRD Kab. Cirebon Minta Maaf Usai Komentar Di Medsos Viral – Video
Sementara bersamaan dengan kegiatan tradisi mubeng keraton, di Prabayaksa dibacakan Babad Cirebon oleh Raden Hilman sebagai pengingat bagi generasi saat ini mengenai sejarah berdirinya Cirebon. Pembacaan ini didampingi oleh Sultan Kacirebonan IX, Pangeran Raja Abdulgani Natadiningrat, permaisuri, serta keluarga, abdi dalem, hingga para tokoh.
Usai tradisi mubeng, prosesi pengarem-arem atau membawa makanan berbentuk tumpeng dari abdi dalem dan masyarakat—yang juga dihidangkan untuk tamu maupun warga yang hadir—menjadi hal menarik. Hal ini karena semua masyarakat yang hadir dapat menikmati sajian nasi tumpeng dan makan bersama di pelataran Prabayaksa. Diharapkan tradisi ini bisa terus dilestarikan secara berkelanjutan.