Sejumlah nelayan di Desa Citemu, Kecamatan Mundu, Kabupaten Cirebon, terpaksa menghentikan sementara aktivitas melaut mereka. Menurunnya hasil tangkapan yang tidak sebanding dengan tingginya biaya operasional membuat para nelayan memilih untuk menyandarkan kapal sembari menunggu musim tangkapan kembali membaik.
Para nelayan Citemu mengatakan bahwa kondisi paceklik ini paling dirasakan oleh para nelayan pengguna jaring kejer, jaring garok, dan jaring wuwu yang membutuhkan biaya tambahan cukup besar untuk penyediaan umpan.
Dalam sekali melaut, biaya operasional untuk satu perahu yang diawaki oleh lima orang rekan nelayan bisa mencapai sekitar Rp300 ribu. Namun, minimnya komoditas laut membuat hasil tangkapan mereka terkadang hanya berkisar dua ekor rajungan dengan nilai penjualan yang sangat rendah, yaitu sekitar Rp50 ribu saja.
Baca Juga:Reses, Prof Rokhmin Dahuri Serap Aspirasi Warga Kota Cirebon – VideoAntrean Kendaraan Di SPBU Mengular – Video
Akibat ketimpangan modal tersebut, para nelayan terus mengalami “nendo“. Istilah lokal ini digunakan untuk menggambarkan kondisi jeratan utang yang terus bertambah akibat hasil tangkapan harian yang tidak pernah mampu menutupi modal melaut.
Saat ini, sebagian besar nelayan memilih mengisi waktu luang dengan memperbaiki jaring yang rusak dan merawat lambung perahu. Aktivitas ini dilakukan sambil menunggu datangnya puncak musim rajungan agar mereka dapat kembali melaut dengan hasil yang lebih menjanjikan.
Para nelayan berharap kondisi cuaca di perairan Cirebon serta siklus musim tangkapan bisa segera membaik. Dengan demikian, mereka dapat kembali bekerja secara normal dan memperoleh penghasilan yang layak untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga sehari-hari.