Tradisi Muludan Tuk di Desa Kertawinangun Kecamatan Kedawung Kabupaten Cirebon kembali digelar dengan prosesi sakral pengangkatan Buyut Kayu Perbatang Pangeran Mancur Jaya dari dalam balong kramat. Kayu yang hampir setahun tenggelam di dalam balong itu menjadi pusat perhatian warga yang datang untuk menyaksikan sekaligus ngalap berkah.
Suasana khidmat menyelimuti Balong Kramat Tuk Pangeran Mancur Jaya di Desa Kertawinangun, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, Rabu pagi. Tradisi Muludan Tuk diawali dengan doa bersama dan lantunan syair tradisional.
Kemudian rangkaian sambutan dari tokoh adat dan pemerintah, prosesi dilanjutkan dengan adzan dan ikamah. Setelahnya, sejumlah pemuda yang merupakan keturunan Pangeran Mancur Jaya kemudian turun ke dalam balong untuk mengangkat Buyut Kayu Perbatang Pangeran Mancur Jaya.
Baca Juga:Rencana Kerjasama KPBU APJ Diklaim Tetap Berjalan – VideoPesan KDM Menggelegar Di HUT Ke-528 Kuningan – Video
Lantunan doa dan selawat terus mengiringi prosesi pengangkatan kayu pusaka tersebut. Setelah berada di luar balong, perhatian warga tertuju pada kayu yang masih basah. Sejumlah warga tampak berusaha mendekati dan menyentuh kayu, bahkan mengusapkan air yang menempel di kayu ke wajah mereka.
Tradisi tersebut menjadi bagian dari kepercayaan masyarakat untuk ngalap berkah. Warga pun terlihat membawa botol plastik kosong untuk mengambil air dari balong.
Usai diangkat, Buyut Kayu Perbatang dibawa menuju ruang penjamasan. Kayu ditutup menggunakan kain bermotif batik dan ditaburi kelopak bunga mawar sebelum dilakukan doa bersama. Pada malam hari, kayu kembali disemayamkan di depan rumah Mbah Kuwu.
Dalam cerita yang di wariskan turun temurun, kayu tersebut diyakini sebagai peninggalan Mbah Kuwu Cirebon Pangeran Cakrabuana yang kemudian ditemukan kembali pada masa Pangeran Mancur Jaya.
Tradisi yang telah berlangsung sejak 1965 dan dilaksanakan setiap tanggal 19 Maulid ini terus dijaga masyarakat sebagai warisan budaya. Bagi warga Kertawinangun, Muludan Tuk bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga bagian dari penghormatan terhadap leluhur dan identitas budaya Cirebon.