Kekerasan Anak di Jalaksana Kuningan, Korban Alami Pembekuan Darah di Otak hingga 30 Jahitan

Uus Usnadi menjaga anaknya MNR (14) yang menjadi korban kekerasan di Jalaksana, Kuningan
MNR (14) korban kekerasan di Jalaksana, Kuningan, mengalami pembekuan darah di otak dan harus menjalani operasi dengan 30 jahitan. | Foto: radarcirebon.com
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Kasus kekerasan anak di Jalaksana, Kabupaten Kuningan, kini tengah diselidiki polisi. Seorang pelajar SMP berinisial MNR (14) mengalami luka serius setelah diduga menjadi korban kekerasan. Keluarga korban telah melaporkan kejadian tersebut kepada polisi, dan penyidik Polres Kuningan melakukan penyelidikan serta memeriksa pihak yang dilaporkan.

Kasus ini menjadi perhatian karena kondisi korban cukup serius. MNR mengalami luka pada bagian kepala hingga ditemukan pembekuan darah di otak dan harus menjalani operasi.

Korban Alami Luka Serius di Kepala

Kakak korban, Dessynia Hafillya (21), mengatakan adiknya mengalami sejumlah luka setelah kejadian tersebut. Namun, luka paling parah berada di bagian kepala. Menurut Dessynia, terdapat pembuluh darah yang pecah hingga menyebabkan pembekuan darah di otak.

Baca Juga:Update KMP Virgo Transport 8 Tenggelam: 114 Penumpang Ditemukan, 108 Selamat dan 6 Meninggal10 Daftar Wilayah Indonesia Terancam Suhu Udara Panas September 2026

“Untuk bagian perut, sepertinya lambung. Dia juga mengeluhkan sakit. Selain itu, ada pembuluh darah yang pecah lalu pembekuan darah di otak,” kata Dessynia kepada wartawan.

Kondisi tersebut membuat korban harus menjalani tindakan operasi. Setelah operasi, korban mendapatkan sekitar 30 jahitan di bagian kepala. Sebelum menjalani operasi, kondisi MNR juga sempat mengkhawatirkan. Korban kerap meringis dan menangis karena menahan rasa sakit.

“Sebelum operasi, dia sering meringis dan menangis. Sebelum tidak sadarkan diri, dia juga sering mengeluh kesakitan. Pokoknya, dia terus meringis menahan sakit,” ujar Dessynia.

Ingatan Korban Sempat Terganggu

Selain luka fisik, keluarga juga melihat adanya perubahan pada kondisi komunikasi dan ingatan korban. Dessynia mengatakan, pada awalnya korban masih bisa berkomunikasi, namun responsnya tampak lebih lambat seperti mengalami jeda.

“Awalnya komunikasinya agak nyambung, tetapi seperti sedikit terlambat atau nge-lag. Kemudian, sedikit demi sedikit, dengan bantuan dokter, ingatannya mulai membaik,” katanya.

Korban bahkan sempat bertanya kepada dokter mengenai orang-orang yang datang menjenguknya. Setiap ada orang datang, MNR bertanya kepada dokter mengenai siapa orang tersebut. Dokter membantu korban mengingat orang-orang yang menjenguknya.

Polisi Selidiki Laporan Orang Tua Korban

Kasat Reskrim Polres Kuningan AKP Abdul Aziz mengatakan, laporan dugaan kekerasan tersebut disampaikan langsung oleh orang tua korban. Setelah laporan diterima, penyidik langsung melakukan langkah awal untuk mengungkap kejadian tersebut.

0 Komentar